
Kapten Raymond Westerling
Nederlandsindie.com – Ternyata Westerling mirip Attaturk (Mustafa Kemal Pasha). Westerling ini lahir di Turki. Menjalani sekolah komando di Inggris dan dikenal jago tembak.
Mirip Sinterklas, Kapten Raymond Westerling mendarat di Zuid Celebes (Sulawesi Selatan) pada 5/12/1946. Tapi dia bukan untuk menebar kado, melainkan maut.
Bersama pasukan Depot Speciale Troepen (Pasukan Khusus Cadangan, semacam Kostrad) mula-mula dia mendarat di ibukota Makassar. Westerling yang biasa disapa “De Turk” (baca: orang Turki, disapa demikian karena dia lahir di Turki) cepat sekali populer di kalangan masyarakat Belanda di Celebes.
Westerling yang perkasa (dengan tubuh berotot) tidak hanya menarik perhatian kaum wanita. Para veteran prajurit Kostrad Belanda ini hingga kini masih mengagumi kapasitas komandan mereka itu.
Satu dari mereka, Haij van Groenedaal menulis:
“Sungguh dia adalah figur magis, sangat populer. Seorang perwira komando yang luarbiasa baik, dan dia jago menembak dengan pistolnya. Tak seorang pun saat itu dapat menyamainya,”
“Keahliannya menembak itu diperoleh saat belajar pada sekolah komando di Inggris selama Perang Dunia II. Dari sini pula dia menjadi ahli kontragerilya, kemudian bertugas sebagai perwira intelijen di Sumatera, selanjutnya mulai musim panas 1946 dia diangkat sebagai komandan Kostrad Belanda.
Para prajurit Kostrad Belanda di Celebes saat itu nyaris tidak tahu sosok siapa yang akan menjadi komandan mereka. Satuan ini baru berumur setengah tahun, sebagai bagian dari Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) dengan tugas-tugas operasi khusus.
Anggota pasukan elit khusus pimpinan Westerling ini direkrut dari prajurit reguler terbaik, kemudian mendapat pendidikan khusus komando. Akhirnya terpilihlah 150 prajurit terbaik, di antara mereka terdapat orang-orang Indo dan Maluku.
Salah satu dari mereka adalah Peter van Haalem, yang semula sebagai prajurit sukarela ditugaskan di Semarang. Setelah lolos seleksi Kostrad, dia selanjutnya menjalani pendidikan komando di Polonia. “Pendidikannya sangat berat,” tulis Van Haalem.
Sementara Van Groenendaal menambahkan bahwa pendidikan komando selain menguji ketahanan fisik hingga ambang batas, juga mental. “Segala jenis rasa ngeri dan takut yang dimiliki oleh manusia umum, dalam pendidikan komando itu diajari untuk bisa mengendalikannya. Dan jika seseorang telah menyelesaikan pendidikan komando ini, maka dia sudah siap…”
Pasukan komando di bawah pimpinan Kapten Westerling ini diharapkan dapat membereskan kekacauan di Celebes, lalu memulihkan keamanan dan ketertiban, suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh pasukan reguler KNIL.
Para prajurit komando ini tidak tahu apa yang akan terjadi. Namun menjelang berangkat, mereka mencium sesuatu yang tidak beres dari ucapan Westerling. “Saya masih sempat mendengar dia mengatakan, kalau ada di antara kalian yang tidak sanggup berjalan dalam genangan darah sampai polok kaki (enkel), maka katakan sekarang juga bahwa kalian tidak sanggup. Namun saat itu tidak ada prajurit yang mengundurkan diri,” (Andere Tijden)






