
Perang Padri, Pertempuran di Tanjung Alam
Nederlandsindie.com – Padri merupakan penyebutan versi Belanda untuk kaum pembawa gerakan pemurnian Islam dari pengaruh adat setempat yang dinilai tidak sesuai, seperti prinsip matriarchaat dan sistem bagi waris yang bertentangan dengan syariah.
Kata padri berakar dari bahasa Portugis ‘padre’ yang berarti pastor, bapa. Orang lokal Minang sendiri menyebut para kaum pemurni agama itu dengan istilah ‘urang putih’, merujuk pada perjuangan suci yang diyakini dan pakaian mereka yang selalu putih-putih, sekaligus membedakan mereka dari cara berpakaian tradisional setempat.
Perang Padri (Padri-oorlog, 1821-1824) adalah ekspedisi penghukuman oleh Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) terhadap kaum pemurni Islam tersebut di Padangse Bovenlanden, yakni nama Belanda untuk kawasan Padang Atas yang dihuni suku Minang, daerah sekitar Pagaruyung sekarang.
Jenderal Andreas Victor Michiels saat itu berusaha membendung pengaruh gerakan ini dengan mendukung kaum adat dan menyatakan wilayah Padangse Bovenlanden berada di bawah pengawasan Belanda.
Gerakan pemurnian agama ini dipelopori oleh tiga orang haji yang baru saja kembali dari Mekkah. Mereka mengajak penduduk setempat untuk menjalankan syariah agama secara murni dan segera mendapat pengaruh luas.
Wilayah-wilayah Sumatera bagian utara jatuh ke dalam pengaruh gerakan ini. Pemerintah kolonial Belanda memandang gerakan ini intoleran. Mereka dianggap bertanggung jawab atas terbunuhnya dua raja Minangkabau (Pagaruyung), satu di antara mereka lolos. Para kerabat mereka ikut melarikan diri dan menetap di kota Padang.
Mereka kemudian meminta bantuan residen (setara bupati/walikota) Padang saat itu, yakni Resident Du Puy, untuk menumpas kaum padri. Du Puy saat itu baru saja serah terima pemerintahan kawasan setempat dari Inggris ke Belanda.
Sebagai imbal balik atas bantuan Du Puy, para aristokrat Minang itu menjanjikan untuk memberikan wilayah kerajaan Minangkabau kepada Belanda. (1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag)







Ada buku yang menulis banyak tentang Perang Padri, judulnya “TUANKU RAO”. Lumayan buat tambahan referensi. Dari mulainya Perang Padri sampe kekalahan pasukan Imam Bonjol di Benteng Air Putih
sedikit banget sih penjelasannya!!!!!!!!
ditambah doooong…..??!!!!