
Perkebunan Tembakau, Payakumbuh
Kualitas jelek tersebut akibat kurang perhatian dan perawatan. Akhirnya tembakau Payakumbuh hanya laku diekspor ke beberapa kota di Sumatera, Jawa, dan Straits Settlements.
Pada 1914 jumlah total ekspor tembakau ini mencapai 1.560.000 kg, di mana separuhnya ke Straits.
Para ahli berpendapat bahwa pantai barat Sumatera Barat dengan ibukota Padang sangat potensial untuk perkebunan teh. Hasil ujicoba yang telah dilakukan ternyata jauh dari perkiraan, namun terutama kendala yang dihadapi adalah mencari tenaga pemetik.
Para wanita di sana kurang tertarik untuk bekerja memetik daun teh dengan gaji rendah. Sebagai gantinya, para pengusaha perkebunan Belanda di Sumattera Barat merekrut kuli lepas, terutama dari kawasan Singkarak.
Pada 1914, untuk pertama kalinya teh Sumatera Barat dikapalkan ke Negeri Eropa sejumlah 2200 kg. Ekspor pertama ini dinilai cukup berhasil dan mendatangkan keuntungan.
Produk lainnya dari kawasan ini adalah gambir, bahkan produk ini berasal dari sepertiga pulau Sumatra. Di samping itu juga kacang tanah, kanil, pala, cengkeh dan kina. Produk kina ini pada 1914 mencapai 86.000 kg. (Handel uit de Regerings Almanak 1878).







Redaksi ykh. Saat ini sy ingin mencari sejarah Perang Kamang di Kabupaten Agam/Bukittinggi Sumatera Barat, Saya lihat di web ini belum ada. Kira2 ada dimana saya bisa mengaksesnya ? Kita menghendaki sumber terutama dari Belanda sendiri.
Terimakasih