
Lambang Kotapraja Padang di Zaman Belanda
Kelompok-kelompok masyarakat ini memiliki hukum dan aturannya sendiri-sendiri, tempat ibadah sendiri, kawasan hunian dan makam/kuburan juga sendiri-sendiri.
Para inlander digaji lebih rendah dibandingkan kelompok Eropa dan Asing Timur, tetapi ongkos hidup mereka juga rendah. Dalam sebuah koran terbitan masa itu, ketika Papa masih berusia 10 tahun, pernah dimuat bahwa pada pertunjukan sirkus harga tiket untuk dewasa Eropa Fl 10 (sepuluh Gulden), anak-anak Fl 5 (lima Gulden) dan inlanders Fl 2,5 (2,5 gulden).
Di Padang dan sekitarnya dengan ibukota Bukkitinggi atau Fort de Kock (dulu) banyak tinggal orang-orang Minang. Mereka ini termasuk penganut matriarchat yang sangat langka di dunia.
Anak-anak keturunan mereka menyandang nama keluarga dari pihak ibu, dan mewarisi harta dari garis keturunan ibu. Mayoritas dari mereka adalah muslim dan itu bisa dilihat pada sebagian besar perempuan yang mengenakan kerudung.
Mereka secara umum kedudukannya tidak lebih rendah dan melakukan pekerjaan sebagaimana laki-laki.
Kawasan di luar Padang sangat subur dan makmur, suatu hal yang tidak terlihat di Padang sendiri. Padang nampak seperti kota tidur, sangat sepi. Lalulintas di dalam kota tidak boleh melebihi kecepatan 40km/jam. Di luar kawasan tempat tinggal kecepatan maksimalnya 70km/jam.
Warga inlander tidak pernah berteriak atau membuat keributan. Semuanya begitu tenang dan damai. Orang-orang setempat umumnya duduk-duduk dengan sikap mereka yang sangat spesifik: berjongkok melamun sambil menghisap rokok kretek. (Clemensjacobusboon)
rahmat jaya putra,sh.mh.
27 March 2009 at 00:53
bagus sekali situs ini untuk mengenal sejarah nederland indie khususnya kota padang (sumbar) karena saya sebagai orang minang sangat tertarik akan sejarah tempo doeloe
tommy
12 June 2010 at 22:39
weeezzz…………..
kapan ya dipadang bisa setenang dulu….
dalam kota ga boleh lewat 40km/jam
assikk juga tu……..
nah sekarang
remaja remaja disini bawa motor nya mungkin lebih dari 80km/jam
mampui beko manangih amak