Sosialisasikan via:

FacebookTwitter

Bioskop Maxim Soerabaja Hanya untuk Warga Eropa

Laurel & Hardy

Laurel & Hardy

Nederlandsindie.com – Pertunjukan Matinee Laurel & HardyMasa-masa sebelum dan setelah Perang Dunia II, bioskop adalah sarana hiburan sangat populer di Nederlands-Indie, tak terkecuali di Surabaya. 

Bioskop Luxortheater, Sampurnatheater, dan Capitoltheater di Kranggan, Surabaya, menjadi tempat tujuan warga kota.

Tetapi yang termewah adalah biskop Maxim. Selain gedung dan interiornya superluks, bioskop Maxim saat itu sudah dilengkapi dengan airconditioning (AC). Prijskaartje (harga karcis) di Maxim bervariasi dalam beberapa kelas, mulai dari 45, 60, 90 dan 120 sen Gulden. Sangat mahal dan tidak terjangkau oleh warga biasa.

Bukan hanya soal harga yang membuat warga biasa gigit jari. Di beberapa bioskop memang saat itu hanya menerima warga Eropa. Para inlander jangan harap bisa mendekat.

Pertunjukan matinee saat itu sangat dinanti anak-anak remaja (ABG), karena tiketnya cuma 25 sen. Untuk kursi kelas satu tiket termahal 40 sen.

Film-film untuk pemutaran matinee biasanya terdiri dari film Laurel & Hardy, Taxiboys (meniru-niru Laurel & Hardy) dan film-film cowboy.

Untuk warga inlander tersedia bioskop-bioskop yang jauh lebih sederhana. Harga karcisnya cuma 10 hingga 25 sen. Iklan pemutaran filmnya saat itu bisa sampai ke desa-desa. Flyernya secara khsus dibuat dalam bahasa Melayu dan disebar di sepanjang jalan.

1 Tanggapan Bioskop Maxim Soerabaja Hanya untuk Warga Eropa

  1. Alex

    20 March 2011 at 02:38

    Ik vind dit een van de grootste fouten die tijdens de nederlandse koloniale tijd in Indonesie begaan is, namelijk: exclusivisme.
    I.p.v. de nederlandse taal aan iedereen toegankelijk maken, gedroegen zich de kolonisten zeer exclusief en gescheiden van de rest v.d. wijde maatschappij in NL-Indie. Geen wonder, in WO-II verloor NL haar kolonie erg snel als een kaartenhuis. Geen steun v.d. wijde bevolking. (Bijna) niemand sprak/spreekt nederlands, de taal v.d. kolonisten. Wat jammer, anders had nederlands met ruim 240 miljoen inwoners in Indonesie een van de grootste wereldtalen kunnen worden. (kijk bijv. naar Brazilie met portugees. Maar ja, de Portugezen waren meer inclusief).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>