
E. du Perron, Penyair Bandoeng
Dari sisi ayah masih berdarah bangsawan Prancis yang sudah turun temurun menetap di Nederlands-Indie. Ibunya berasal dari Réunion.
Masa kecil Du Perron, biasa disapa Eddy, selalu takut pada ayahnya, dimanja oleh sang ibu yang berkepribadian tidak stabil, serta dididik oleh guru privat, Eddy kecil tumbuh di antara para pembantu inlanders (jongos dan kacung) dan dia lebih senang berbicara dalam bahasa Indonesia. Situasi perpecahan menjelang perang di Nederlands-Indië sangat mempengaruhinya.
Pada 1906 keluarganya pindah ke kawasan lebih luas dan masih sepi di kawasan pantai selatan Jawa Barat, namun pada 1912 mereka kembali lagi ke Bandoeng.
Eddy lalu masuk sekolah HBS, mula-mula di Batavia, lalu di Bandoeng, tapi dia tidak menamatkan sekolahnya. Namun Eddy tumbuh menjadi pembaca buku sangat fanatik dan dia mendapat pelajaran privat bahasa Belanda.
Setelah itu dia menjadi jurnalis, ikut terlibat dalam kehidupan semi-mondaine lengkap dengan petualangan erotisnya, lalu melakukan banyak perjalanan, antara lain mengunjungi Boroboedoer.
Seusai Perang Dunia I, keluarga yang kaya raya ini meninggalkan Jawa menuju Brussel via Marseille dan Paris. Pada 1922 Du Perron menetap di Montmartre (Paris), berkenalan dengan para pelukis dan penulis Prancis dan non-Prancis, dan selanjutnya menjalanii kehidupan ala Bohemian.
Berkat kritikus Pascal Pia, dia lalu mendalami literatur yang kelak sangat mempengaruhinya, yakni karya Gide, Larbaud, Léautaud, Stendhal. Di masa inilah buku karya pertama Du Perron dipublikasikan, ditulis dalam bahasa Prancis: Manuscript trouvé dans une poche (1923).
Setengah tahun kemudian dia meninggalkan Montmartre, melakukan banyak perjalanan jauh, lalu kembali ke Belgia pada 1924.
Tertarik dengan modernisme dalam sastra dan seni rupa, dia lalu bersentuhan dengan aliran expressionisme di Antwerpen. Antara lain dia bertemu dengan Paul van Ostaijen dan Gaston Burssens, tetapi juga dengan pelukis Belanda A.C. Willink, yang saat itu masih menganut abstrak ala Mondriaan.
Dengan kekayaannya, Du Perron selanjutnya menerbitkan majalah, De Driehoek (Segitiga), di mana dia sendiri dan Jozef Peeters dari Antwerpen sebagai redaksi. De Driehoek terbit 10 edisi (April 1925-Januari 1926) dan beberapa edisi khusus.
Du Perron sangat terpaku pada edisi privat dengan oplag terbatas dan dengan itu dia tidak hanya menerbitkan karya-karyanya sendiri (dengan nama samaran Duco Perkens), tetapi juga dari orang lain.
Sementara itu ayahnya membeli kastil Gistoux, yang diisi dengan meubel dari pelelangan. Dari hubungannya dengan gadis pembantu Simone Sechez lahirlah anak laki-laki pada 1926. Dia menikahi Sechez pada 1928, namun atas kesepakatan kedua pihak akhirnya mereka bercerai.
Karya-karya Du Perron: Nutteloos Verzet (1929); Voor Kleine Parochie (1931); Vriend of Vijand (1931); Mikrochaos (1932); Blocnote Klein Formaat (1936); Multatuli, Tweede Pleidooi (1938); De Grijze Dashond (1941); Een Grote Stilte (1942); Scheepsjournaal van Arthur Ducroo (1943).






