Pemerintah Kotapraja Den Haag mendorong warganya untuk semakin sering meninggalkan mobil dan memilih bersepeda. Untuk itu pemkot akan menanggung biaya penitipan sepeda alias gratis untuk para warga.
Dengan layanan seperti itu pula pemkot bermaksud meningkatkan jaminan keamanan sepeda milik warganya, sekaligus menekan angka pencurian sepeda.
Di samping itu juga diharapkan warga yang selama ini memarkir sepedanya secara sembarangan, sehingga memunculkan pemandangan semrawut, agar memarkir di tempat pemarkiran supaya terlihat tertib. (ni)
Chandra meizir
8 March 2010 at 15:23
Inie bisa saja deterapkan dibeberapa kota besar di Indonesia misalnja kota Bandoeng -Djakarta -jogjakarta soerabaja.dan kota kota besar lain nja.mari kita galak kan persepedaan di Indonesia.
Robby Kaware
29 April 2010 at 22:11
Di Nederland, keliling kota naik sepeda atau jalan kaki sungguh pengalaman menyenangkan.
Mobil pribadi sangat tidak dianjurkan. Pemerintah sengaja membuat harga bensin sangat mahal dan tarip parkir sangat tinggi.
Sebagai alternatif, pemerintah Belanda menyediakan trotoir, jalur sepeda, disamping fasilitas bis kota, tram dan kereta api yang sangat bersih, nyaman, murah, aman dan tepat waktu. Jadi, rakyat benar2 punya alasan untuk meninggalkan mobil pribadi dirumah.
Kalau Indonesia mau meniru Belanda, pejalan kaki dan sepeda harus sangat dimanjakan seperti di nederland. Trotoir dan jalur sepeda mutlak harus disediakan. Trotoir ini harus aman, nyaman, bersih, lebar dan menjangkau area yang sangat luas. Trotoir semacam ini ada disemua kota besar dunia. Kecuali di…….Indonesia yang rakyatnya dipaksa beli mobil pribadi dengan hargan termahal didunia padahal gaji kita tergolong paling rendah didunia ! Sampai tahun 1960an, di Surabaya tersedia lengkap jalur sepeda, becak, pejalan kaki, tram listrik dan juga tram uap. Semuanya peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Sayang, setelah 60tahun merdeka, fasilitas itu tidak ada lagi yang tersisa. Jadilah Surabaya kota paling ruwet, macet, panas, berdebu. Daerah Tunjungan yang merupakan prime area pusat pertokoan paling indah dikala itu kini tidak jelas.
William
21 August 2011 at 08:13
Saja sanget setoedjoe dengan pendapet daripada Chandra Meizir, semoga persepedaen di negara kita dapat dilaksanaken tidak hanja di Djakarta, tetapi di Bandoeng, Soerabaia, Paiacombo, Bengkoelen, Macassar, Hollandia, Amboina, dan daerah lainja di Indonesia
William
21 August 2011 at 08:14
Saja sanget setoedjoe dengan pendapet daripada Chandra Meizir, semoga persepedaen di negara kita dapat dilaksanaken tidak hanja di Djakarta, tetapi di Bandoeng, Soerabaia, Paiacombo, Boekittinggi, Bengkoelen, Macassar, Hollandia, Amboina, dan daerah lainja di Indonesia