Nederlandsindie.com – Pada 1918 saya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan tembakau Deli Tabak Maatschappij, Bandoeng. Selanjutnya pada 1923 pindah ke toko buku Maatschappij Boekhandel Vorkink NV yang juga dikenal sebagai Algemeen Indisch Dagblad (A.I.D.) atau De Preanger Bode, Bandoeng.
Sebagai staf tatabuku sangat dipercaya dan dihormati atas pekerjaan sebagai tenaga keuangan. Ketika Kepala Redaksi merangkap Direktur Mr Wormser mengambil cuti liburan, saya dipercaya menggantikan posisi tinggi tersebut selama setahun.
Saya bertahan tetap bekerja di sana sampai 1942. Pada tahun itu juga Jawa diduduki oleh Jepang melalui invasi militer. Dalam peristiwa ini anak perempuan dan adik perempuan saya tewas.
Tak lama setelah itu saya ditangkap Jepang dan masuk kamp tawanan (interniran) hingga datang masa pembebasan pada 15 Agustus 1945. Bagaimana istri saya Clara bisa selamat dari tahun-tahun sulit itu sungguh masih menjadi tanda tanya. Sejak itu dia tidak mau lagi membicarakan periode sangat berat tersebut.
Ketika Belanda kembali menguasai Nederlands-Indie, saya membuka usaha toko besi, yang berjalan baik sampai 1949. Toko besi ini selanjutnya disita oleh kaum nasionalis, ketika saya baru saja sedang makan siang.
Di tahun yang sama Indonesia resmi merdeka setelah terjadi penyerahan kedaulatan. (Sumber: Willem Frederik Pieter)






