Widgetized Section

Go to Admin » Appearance » Widgets » and move Gabfire Widget: Social into that MastheadOverlay zone

Daendels, Perintis Infrastruktur

Gouverneur-generaal H.W. Daendels

Gouverneur-generaal H.W. Daendels

Nederlandsindie.com – Gouverneur-generaal (Gubernur Jenderal) Herman Willem Daendels adalah perintis infrastruktur yang sangat luarbiasa dampaknya bagi kemajuan ekonomi di Jawa, yakni pembuatan Grote Postweg (Jalan Raya Pos) atau populer disebut Jalan Daendels.Panjang jalan di sisi utara Jawa ini dari Anyer di ujung barat sampai Panarukan di ujung Timur, dengan panjang total mencapai 1000km, terpanjang di dunia saat itu.

Daendels membangun jalan yang membelah sepanjang Pulau Jawa ini terutama untuk tujuan strategi dan kepentingan militer: mobilisasi pasukan dengan cepat.

Pembangunan jalan ini memakan korban jiwa sangat banyak, namun dinilai oleh para sejarawan Indonesia sekarang sebagai kemajuan penting. Berkat jalan ini bagian-bagian terpencil di Jawa menjadi mudah dicapai dalam hitungan hari, tidak lagi berpekan-pekan.

Ketika Daendels tiba di Jawa dia langsung memutuskan untuk membangun jalur transportasi di sepanjang bagian utara Jawa, demi melindungi pulau penting di bawah kekuasaan Belanda ini dari serangan Inggris. Dengan adanya jalan ini mobilisasi pasukan Belanda akan menjadi sangat cepat.

Daendels memaksa setiap penguasa lokal sepanjang jalur yang direncanakan itu untuk mengerahkan rakyatnya membangun jalan yang diinginkan.

Dia menetapkan target produksi di mana jika target ini tidak tercapai maka para penguasa lokal dan rakyatnya akan dibunuh. Potongan kepala mereka digantung di pohon di sepanjang jalan. Daendels menjalankan kebijakannya ini dengan keras dan kejam.

Dengan disiplin bajanya itu akhirnya Daendels dapat menyelesaikan jalan yang diimpikannya itu hanya dalam setahun (1808), sebuah prestasi sangat luarbiasa di zaman itu. Karena pembangunan jalan yang sangat spektakuler dan kekejamannya itu nama Daendels tetap dikenal sampai sekarang.

14 tanggapan untuk Daendels, Perintis Infrastruktur

  1. Anwar

    2 March 2009 at 02:18

    Judulnya akan lebih pas dengan
    “Penjagal kejam dari Belanda” karena dia telah membunuh ribuan bahkan jutaan orang Indonesia kala itu.

  2. Uci

    2 March 2009 at 03:16

    Wow, thanks. Kita sekarang jadi tahu ternyata jalan daendels anyer panarukan itu dibuat dengan paksaan, penguasa lokal dan rakyatnya diperas untuk menyelesaikan sesuai target, kalau ngga bisa mereka semua dipenggal kepalanya. Tapi memang ada hikmahnya, indonesia jadi punya jalan vital yg bermanfaat untuk ekonomi. Dari dulu jalan andalan penghubung di Jawa itu ya karya daendels itu. Kayak rel kereta api, sejak peninggalan Belanda kita belum mampu bikin sendiri.

  3. Reddy

    8 June 2009 at 01:46

    Setitik jasa Daendels yang ditorehkan diatas lumuran darah dan tumpukan mayat para pendahulu kita.

  4. kakajoe

    19 July 2009 at 19:36

    sebenernya bukan ini aja legacy yg masih trus dipakai sama kita, dan bbrp emang bagus untuk Indonesia tapi sayangnya setelah pindah tangan ke bangsa sendiri legacy ini ga di gunakan or gak ditrusin .. contoh kecil kanal di jakarta.. padahal kalo kanal itu jadi sebelom kemerdekaan.. mungkin yg namanya banjir di jakarta akan berkurang .. bener gak yah ?

  5. Pingback: Herman Willem Daendels,karyanya berbalut noda dan derita | abdulcholik.com

  6. irpanudin

    5 September 2010 at 19:54

    Pembelaan terhadap Daendels

    Tokoh yang sering disalahfahami…
    Gubernur Jenderal yang memikirkan kemajuan ekonomi pulau jawa dengan membangun jalan..
    Kerja paksa tanpa diberi makan??
    yang benar saja!! mana ada orang bisa kerja tanpa makan.

    Dia seorang pendukung perancis,…pendukung revolusi Liberte, Egalite, Fraternite —> artinya pendukung kebebasan rakyat.

    Kebijakannya membangun jalan tidak disukai Raja-raja jawa dan pejabat belanda yang korup,… karena menekan pihak kerajaan dan menghabiskan banyak biaya.
    Orang belanda yang menentang daendels pulang ke belanda dengan menjelek-jelekan Daendels, dan catatan sejarah yang menjelekan daendels itu diadopsi oleh sejarah indonesia.

    Apa kita ini bangsa yang tak kenal adat dan tak tahu terima kasih?

  7. johnny maukar

    28 December 2010 at 18:07

    Sebaiknya kita menulis dengan dilatarbelakangi banyak sumber. Sejarah kita ditulis hanya berdasarkan arsip Belanda. harus diingat pada masa itu Daendels adalah Gubernur Jenderal yang diangkat Napoleon Bonaparte karena Hindia Belanda otomatis berada dibawah kekuasaan Perancis setelah Belanda dikalahkan Perancis. Jadi semua laporan pekerjaan Daendels ada di arsip Perancis bukan di Belanda. Yang di Belanda? Itu adalah laporan pejabat-pejabat Hindia Belanda yang dipecat Daendels. Isinya penuh dengan kekejaman Daendels. Tidak ada laporan bahwa padamulanya semua pekerja dibayar. Ribuan gulden disiapkan sebagai upah. Setelah kehabisan dana, baru Daendels berunding dengan penguasa lokal agar mengerahkan pekerja. Imbalan pekerja itu apa? Mereka dibebaskan dari kewajiban kerja kepada penguasa dan diberi makan penguasa. Di Sumedang kita hanya mendengarkan cerita tentang Cadas Pangeran. Tidak ada catatan di buku sejarah bahwa karena pekerja mengeluh akibat kerasnya batu cadas, Daendels memerintahkan militer menggunakan amunisi untuk penghancurannya. Bukan memenggal kepala orang dan menggantungnya sebagai tontonan. Apa dampak dari jalan terpanjang di dunia saat itu? (sekarang sama dengan tol tapi gratis). Perekonomian di Jawa meningkat dan desa-desa tidak lagi terisolir sehingga produk-produk pertanian dapat dijual penduduk. Betul judul itu: “Perintis Infrastruktur” dan tidak perlu diganti dengan “Penjagal Kejam dari Belanda”. (Untuk mengenal Daendels lebih jauh bacalah berbagai refensi. Ini salah satu yang singkat)

  8. johnny maukar

    28 December 2010 at 18:16

    (Kutipan dari Wikipedia) Berbeda dengan apa yang dipercaya orang selama ini, Daendels selama masa pemerintahannya memang memerintahkan pembangunan jalan di Jawa tetapi tidak dilakukan dari Anyer hingga Panarukan. Jalan antara Anyer dan Batavia sudah ada ketika Daendels tiba. Oleh karena itu menurut het Plakaatboek van Nederlandsch Indie jilid 14, Daendels mulai membangun jalan dari Buitenzorg menuju Cisarua dan seterusnya sampai ke Sumedang.Pembangunan dimulai bulan Mei 1808. Di Sumedang, proyek pembangunan jalan ini terbentur pada kondisi alam yang sulit karena terdiri atas batuan cadas, akibatnya para pekerja menolak melakukan proyek tersebut dan akhirnya pembangunan jalan macet. Akhirnya Pangeran Kornel turun tangan dan langsung menghadap Daendels untuk meminta pengertian atas penolakan para pekerja. Ketika mengetahui hal ini, Daendels memerintahkan komandan pasukan zeni Brigadir Jenderal von Lutzow untuk mengatasinya. Berkat tembakan artileri, bukit padas berhasil diratakan dan pembangunan diteruskan hingga Karangsambung. Sampai Karangsambung, proyek pembangunan itu dilakukan dengan kerja upah. Para bupati pribumi diperintahkan menyiapkan tenaga kerja dalam jumlah tertentu dan masing-masing setiap hari dibayar 10 sen per orang dan ditambah dengan beras serta jatah garam setiap minggu.

    Setibanya di Karangsambung pada bulan Juni 1808, dana tiga puluh ribu gulden yang disediakan Daendels untuk membayar tenaga kerja ini habis dan di luar dugaannya, tidak ada lagi dana untuk membiayai proyek pembangunan jalan tersebut. Ketika Daendels berkunjung ke Semarang pada pertengahan Juli 1808, ia mengundang semua bupati di pantai utara Jawa. Dalam pertemuan itu Daendels menyampaikan bahwa proyek pembangunan jalan harus diteruskan karena kepentingan mensejahterakan rakyat (H.W. Daendels, Staat van Nederlandsch Indische Bezittingen onder bestuur van Gouverneur Generaal en Marschalk H.W. Daendels 1808-1811, ‘s Gravenhage, 1814). Para bupati diperintahkan menyediakan tenaga kerja dengan konsekuensi para pekerja ini dibebaskan dari kewajiban kerja bagi para bupati tetapi mencurahkan tenaganya untuk membangun jalan. Sementara itu para bupati harus menyediakan kebutuhan pangan bagi mereka. Semua proyek ini akan diawasi oleh para prefect yang merupakan kepala daerah pengganti residen VOC. Dari hasil kesepakatan itu, proyek pembangunan jalan diteruskan dari Karangsambung ke Cirebon. Pada bulan Agustus 1808 jalan telah sampai di Pekalongan. Sebenarnya jalan yang menghubungkan Pekalongan hingga Surabaya telah ada, karena pada tahun 1806 Gubernur Pantai Timur Laut Jawa Nicolaas Engelhard telah menggunakannya untuk membawa pasukan Madura dalam rangka menumpas pemberontakan Bagus Rangin di Cirebon (Indische Tijdschrift, 1850). Jadi Daendels hanya melebarkannya. Tetapi ia memang memerintahkan pembukaan jalan dari Surabaya sampai Panarukan sebagai pelabuhan ekspor paling ujung di Jawa Timur saat itu.

    Kontroversi terjadi tentang pembangunan jalan ini. Pada masa Daendels banyak pejabat Belanda yang dalam hatinya tidak menyukai Perancis tetapi tetap setia kepada dinasti Oranje yang melarikan diri ke Inggris. Namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena penentangan terhadap Daendels berarti pemecatan dan penahanan dirinya. Hal itu menerima beberapa orang pejabat seperti Prediger (Residen Manado), Nicolaas Engelhard (Gubernur Pantai Timur Laut Jawa) dan Nederburgh (bekas pimpinan Hooge Regeering). Mereka yang dipecat ini kemudian kembali ke Eropa dan melalui informasi yang dikirim dari para pejabat lain yang diam-diam menentang Daendels (seperti Peter Engelhard Minister Yogya, F. Waterloo Prefect Cirebon, F. Rothenbuhler, Gubernur Ujung Timur Jawa), mereka menulis keburukan Daendels. Di antara tulisan mereka terdapat proyek pembangunan jalan raya yang dilakukan dengan kerja rodi dan meminta banyak korban jiwa. Sebenarnya mereka sendiri tidak berada di Jawa ketika proyek pembangunan jalan ini dibuat. Ini terbukti dari penyebutan pembangunan jalan antara Anyer dan Panarukan, padahal Daendels membuatnya dimulai dari Buitenzorg. Sayang sekali arsip-arsip mereka lebih banyak ditemukan dan disimpan di arsip Belanda, sementara data-data yang dilaporkan oleh Daendels atau para pejabat yang setia kepadanya (seperti J.A. van Braam, Minister Surakarta) tidak ditemukan kecuali tersimpan di Perancis karena Daendels melaporkan semua pelaksanaan tugasnya kepada Napoleon setelah penghapusan Kerajaan Belanda pada tahun 1810. Sejarawan Indonesia yang banyak mengandalkan informasi dari arsip Belanda ikut berbuat kesalahan dengan menerima kenyataan pembangunan jalan antara Anyer-Panarukan melalui kerja rodi.

    Kontroversi lain yang menyangkut pembangunan jalan ini adalah tidak pernah disebutkannya manfaat yang diperoleh dari jalan tersebut oleh para sejarawan dan lawan-lawan Daendels. Setelah proyek pembuatan jalan itu selesai, hasil produk kopi dari pedalaman Priangan semakin banyak yang diangkut ke pelabuhan Cirebon dan Indramayu padahal sebelumnya tidak terjadi dan produk itu membusuk di gudang-gudang kopi Sumedang, Limbangan, Cisarua dan Sukabumi. Begitu juga dengan adanya jalan ini, jarak antara Surabaya-Batavia yang sebelumnya ditempuh 40 hari bisa disingkat menjadi 7 hari. Ini sangat bermanfaat bagi pengiriman surat yang oleh Daendels kemudian dikelola dalam dinas pos.

    Di sisi lain dikatakan bahwa Daendels mebuat birokrasi menjadi lebih efisien dan mengurangi korupsi. Tetapi ia sendiri dituduh korupsi dan memperkaya diri sendiri. Akhirnya ia dipanggil pulang oleh Perancis dan kekuasaan harus diserahkan kepada Jan Willem Janssens, seperti diputuskan oleh Napoleon Bonaparte.Pemanggilan pulang ini dipertimbangkan oleh Napoleon sendiri. Dalam rangka penyerbuan ke Rusia, Napoleon memerlukan seorang jenderal yang handal dan pilihannya jatuh kepada Daendels. Dalam korps tentara kebanggaan Perancis (Grande Armee), ada kesatuan Legiun Asing (Legion Estranger) yang terdiri atas kesatuan bantuan dari raja-raja sekutu Perancis. Di antaranya adalah pasukan dari Duke of Wurtemberg yang terdiri atas tiga divisi (kira-kira 30 ribu tentara). Tentara Wurtemberg ini sangat terkenal sebagai pasukan yang berani, pandai bertempur tetapi sulit dikontrol karena latar belakang mereka sebagai tentara bayaran pada masa sebelum penaklukan oleh Perancis. Napoleon mempercayakan kesatuan ini kepada Daendels dan dianugerahi pangkat Kolonel Jenderal.

    Ketika tiba di Paris dari perjalanannya di Batavia, Daendels disambut sendiri oleh Napoleon di istana Tuiliries dengan permadani merah. Di sana ia diberi instruksi untuk memimpin kesatuan Wurtemberg dan terlibat dalam penyerbuan ke Rusia pada tanggal 22 Juni 1812.

  9. Sultan

    5 January 2011 at 01:58

    Trims untuk infonya,soalnya itu pelajaran ku.

  10. Pingback: Tangerang-Serang via H.W. Daendels’s Grote Postweg « lisanku

  11. Firman Wijaya

    17 April 2011 at 22:13

    Sedikit menyimpang tapi masih berkaitan, di buku “… dahin, wo der Pfeffer wächst” yang ditulis oleh sejarahwan Pater Adolf Heuken ditulis bahwa saat Marschall Dændels tiba di Batavia, yang menjabat sebagai Gubernur-Jenderal waktu itu adalah Albert H. Wiese. Saat Daendels tiba, surat-surat nya hilang dan Wiese tidak percaya bahwa Daendels diutus sebagai Gubernur-Jenderal yang baru, sehingga Wiese memenjarakan Daendels.

    Menambahkan cerita Pak Johnny Maukar:
    Jaman dahulu lazim bagi raja-raja Eropa untuk menjual penduduknya sebagai tentera kepada negeri asing. Herzog von Württemberg menjual penduduknya kepada Venesia, juga kepada VOC untuk membiayai gaya hidupnya yang mewah. Pasukan Württemberg ini ada baraknya di kota Semarang, sayangnya barak itu dihancurkan tahun 1970, tetapi masih bisa dilihat fotonya.
    Sumber dari Wikipedia:
    http://de.wikipedia.org/wiki/Kapregiment
    Foto dari barak pasukan Württemberg di Semarang:
    http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kaserne_Samarang.jpg
    Foto dari kota Semarang saat kedatangan pasukan Württemberg:
    http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Samarang.jpg

  12. Hikmah Wanda Atmawati

    20 July 2011 at 06:20

    Pada zaman Kolonial Belanda, rakyat Indonesia sangatlah menderita. Mr. H.W. Daendels adalah salah satu Gubernur Jendral Hindia-Belanda yang dikenal kejam, galak, dan angkuh. Ia mendapat julukan Jenderal Mas Galak, Tuan Mas Guntur, Marsekal Besi. Tetapi, dengan adanya kerja rodi membangun jalan dari Anyer-Panarukan sistem tranportasi dari daerah terpencil menjadi mudah. Intinya ada rugi&untungnya. Hehe…belajar sejarah Indonesia menyedihkan juga..

  13. dens arga

    16 November 2011 at 23:08

    kita berdoa untuk seluruh rakyat yang menjadi korban dalam pembangunan jalan tsb.semoga ALLOH memberikan imbalan yang setimpal.

  14. Edi Haryadi

    24 July 2013 at 03:23

    Dari sejarah pembuatan jalan Daendels ini juga terungkap bahwa Kota Bandung baru mulai dibangun sekitar tahun 1809, kota pemerintahan tadinya ada di Dayeuh Kolot, 11 Km dari pusat kota Bandung Sekarang.

Tulis Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublis. Required fields are marked *